<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?> 
  <rss version="2.0"><channel> 
				<title>RSS Husnumufid my id</title> 
				<description>Berita Indonesia terkini terpercaya, dan terpopuler, politik, ekonomi, tekno, otomotif, dan olahraga ditulis lengkap dan akurat.</description>
				<link>http://husnumufid.stoedioportal.com/</link> 
				<language>id-id</language><item>
						                <title>Jukir Madura Minta 70 Persen Sedan Walkot Surabaya Menolak Karena Tanah Negara</title>
						                <link>https://husnumufid.my.id/berita/detail/jukir-madura-minta-70-persen-sedan-walkot-surabaya-menolak-karena-tanah-negara</link>
						                <description>Surabaya-Gerakan sosialisasi parkir digital yang digelar Dishub Surabaya pada Selasa (7/4) diwarnai kericuhan karena jukir meminta bagi hasil 70 persen.

Walkot Eri tidak terima dan menegaskan bahwa pihaknya tetap akan menerapkan sistem bagi hasil 60:40, meskipun ditentang oleh jukir.

"Karena ini adalah yang sudah kita konsultasikan. Dulu 20 persen (jukir), 80 persennya masuk ke Pemkot. Maka dengan seperti ini kita ubah menjadi 60:40. Lah wes enak toh." kata Eri.

Dishub Surabaya mengatakan bahwa Paguyuban Parkir Surabaya meminta bagi hasil 70 persen jukir dan 30 persen pemkot. Tapi bagi Eri bagi hasil itu tidak bisa.

"Diwalik pemerintah 30 persen, lah iki tanahe negoro. Terus gimana? Tapi insyaallah pasti nanti akan ketemu, tapi tetap akan jalan dengan non tunai." tegasnya.

Eri menjelaskan bahwa digitalisasi parkir dengan sistem bagi hasil dilakukan untuk menciptakan transparansi dan kepercayaan, serta mencegah warga dikenai tarif melebihi ketentuan. Ia juga menyebut sekitar 600 jukir telah dibekukan oleh Dishub Surabaya karena tidak mendukung kebijakan tersebut.

MM
</description>
					                </item><item>
						                <title>Kisah Spiritual Saat KA  Agustinus (Gus Tri) Berada di Makam Ki Nantang Yudo</title>
						                <link>https://husnumufid.my.id/berita/detail/kisah-spiritual-saat-ka--agustinus-gus-tri-berada-di-makam-ki-nantang-yudo</link>
						                <description>Tokoh Penghayat Spiritual Budaya Nusantara KA Agustinus (Gus Tri) mengunjungi Makam Ki Nantang Yudo di Maospati Magetan. Ada pengalaman spiritual bagi dirinya. Seperti apakah. Berikut ini disampaikan kepada Pemred menaramadinah.com KRT. Husnu Mufid : 


Puji Syukur saya haturkan kepada Gusti junjungan semesta alam yg adalah Sang Hyang Wenang sehingga saya senantiasa masih dalam tuntunannya serta  limpahan berkahnya.  Sehingga dalam jalani lelaku tiada halangan suatu apapun, meski setiap saat cuaca mendung boleh mewarnai langit, baik di bumi Madiun, Magetan maupun Ngawi.

Dalam memasuki area makam yg diimani kaum awam yg sangat keramatpun saya juga telah mendapat panduan Juru Kunci makam yaitu Eyang Sheloo.Dan memang benar bahwa begitu saya memasuki area makam.

Begitu motor saya parkir saya merasakan aura yg sangat kuat di area  makam, saya mendapat tiupan alunan angin menyambut saya sehingga benar benar suasana menjadi sejuk dan kekhusukan saya dalam jalani ritual menjadi hidup. 

Dan tentunya para danyang dan leluhur yg ada di area makam juga Eyang Ki Nantang Yudo pun bersambut girang.. 

Saat saat tabur bunga tujuh rupa tertabur, jg aroma kemenyan/dupa begitu mewarnai menjadi hidup saat ritual suasana menjadi hening dan sakral dan saya merasa ada yg mengawasi dari pojok samping pohon besar. 

Namun saat saya giliran terakhir untuk jalani tabur bunga di makam yg jauh dari makam Eyang Ki Nantang Yudo saya merasakan aura dan getaran yg ada dilokasi untuk sehingga saya batal jalani tabur bunga. Dan menurut arahan dan petunjuk dari Eyang Sheloo benar bahwa makam yg paling pojok menurut Juru Kunci bahwa semasa hidupnya dia juga bagian prajurit dari Eyang Ki Nantang Yudo namun dia tergolong prajurit yg paling melawan.

Selesai jalani ritual pun saya tidak langsung meninggalkan pasarean namun terlebih dahulu ambil waktu jalani tukar pikiran juga wejangan juga ular ular dari Juru kunci semasa Eyang Ki Nantang Yudo masih hidup yg mesti di sinergikan kepada  segenap pengunjung yg sedang jalani kunjungan ke pesarean Eyang Ki Nantang Yudo. 

Adanya semangat pengabdian semangat perjuangan demi warga /rakyat mataram saat itu dengan totalitas sampai pengorbananya serta keteladanannya untuk memiliki semangat kesederhanaan dalam jalani hidup. 

Banyak hal yg boleh saya petik dari Eyang Ki Nantang Yudo saat kunjungan dengan falsafah falsafahnya serta kelebihannya. Meskipun hidup dalam keserdahanaan adalah yg telah menusuk hati yg terdalam.
</description>
					                </item><item>
						                <title>Serahkan Parkir ke Warga Lokal</title>
						                <link>https://husnumufid.my.id/berita/detail/serahkan-parkir-ke-warga-lokal</link>
						                <description>Surabays-Opini Publik Surabaya: Deadlock Parkir Picu Reaksi Warga, Usulan Libatkan Warga Sekitar Menguat

Kebuntuan dalam pertemuan antara Paguyuban Juru Parkir (PJS) dan pemerintah kota tak hanya berhenti di ruang diskusi. Gaungnya langsung merembet ke tengah masyarakat.

Warga Surabaya mulai angkat suara. Di berbagai platform media sosial, komentar mengalir deras—menunjukkan satu hal: publik ikut resah melihat tidak adanya titik temu.

Sebagian menilai, konflik ini bukan lagi sekadar soal kebijakan, melainkan sudah menyentuh aspek kepercayaan dan rasa keadilan.

Netizen: “Kalau Tidak Ketemu, Libatkan Warga Sekitar Saja”

Di tengah perdebatan yang tak kunjung usai, muncul satu gagasan yang cukup kuat digaungkan oleh netizen:
pengelolaan parkir sebaiknya melibatkan warga setempat.

Menurut mereka, membuka lowongan bagi warga yang tinggal di sekitar titik parkir bisa menjadi solusi konkret.

Alasannya sederhana, tapi cukup masuk akal:

- Warga sekitar lebih mengenal lingkungan
- Lebih mudah diawasi secara sosial
- Rasa memiliki terhadap wilayah lebih tinggi

“Kalau yang jaga orang sekitar, minimal ada tanggung jawab moral. Bukan sekadar kerja, tapi menjaga lingkungan sendiri,” tulis salah satu netizen.

Soal Keamanan Jadi Sorotan

Tak sedikit warga yang mengaitkan usulan ini dengan aspek keamanan.

Dengan dikelola oleh warga lokal, diharapkan potensi kehilangan kendaraan bisa ditekan.
Pengawasan tidak hanya formal, tapi juga berbasis kedekatan sosial.

Logikanya jelas: orang yang menjaga lingkungan sendiri, cenderung lebih peduli dibanding sekadar pekerja yang datang dan pergi.

Kekecewaan Publik: Jangan Sampai Rakyat Jadi Korban

Di sisi lain, ada nada kekecewaan yang cukup terasa. Warga berharap pemerintah dan PJS bisa segera menemukan jalan tengah, bukan justru saling mengunci posisi.

Karena pada akhirnya, yang terdampak bukan hanya dua pihak tersebut—tetapi juga masyarakat luas sebagai pengguna layanan parkir.

Mencari Jalan Tengah, Bukan Memperlebar Jurang

Opini publik ini menjadi sinyal penting.
Bahwa masyarakat tidak hanya menonton, tapi juga mulai menawarkan solusi.

600 Jukir Diberhentikan, Polemik Parkir Digital Surabaya Kian Memanas

Mengutip berita Detik Jatim, Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya resmi memberhentikan sekitar 600 juru parkir (jukir) yang dinilai tidak mendukung program parkir digital.

Keputusan ini diambil karena para jukir tersebut dianggap tidak kooperatif, terutama dalam hal pengurusan dan aktivasi rekening bank yang menjadi bagian dari sistem pembayaran non-tunai.
Plt Kepala Dishub Surabaya, Trio Wahyu Bowo, menegaskan bahwa sistem baru tidak lagi menggunakan pembayaran tunai.

“Kami tidak bisa memberikan secara tunai. Semua akan ditransfer ke rekening masing-masing jukir,” ujarnya di Terminal Intermoda Joyoboyo, Senin (6/4/2026).
</description>
					                </item><item>
						                <title>Kencing Berbusa</title>
						                <link>https://husnumufid.my.id/berita/detail/kencing-berbusa</link>
						                <description>By : Erik. Alloha  Terapis Jaya.

Beberapa waktu terakhir mungkin ada sekitar 10 pasien konsultasi dengan keluhan kencing berbusa
Mungkin oknum dokter akan langsung diagnosa sakit ginjal atau bahkan orangnya sendiri akan self diagnose ginjal juga

Menurut pandangan pengobatan timur, kencing berbusa ini bisa didentifikasikan dengan beberapa faktor
1. Bisa karena air dirumah (air PDAM atau air yang tekstur kekentalannya lebih) tempat pipis (toilet yang ada bekas sabun belum bersih) bahkan ketinggian kita pipis mempengaruhi (pipis berdiri)
2. Kurang minum, kelebihan protein atau gula tinggi
Nah untuk ini, semisal dehidrasi bisa dicek warna urin
Kelebihan protein kalau bak Tidak selalu berbusa
Dan kalau gula tinggi biasanya urin lebih kental dan bau buah atau manis
3. Faktor stres
Banyak protein dan mineral yang terbuang karena metabolisme lambung kacau

Lalu, kencing berbusa mana yang berbahaya 
1. Ketika pinggang terasa nyeri dan kurang nyaman cukup lama dan tidak hilang walaupun sudah dipijat, nyerinya dalam bukan bagian permukaan
2. urin ada darah hitam atau kental
3. Warna kulit menghitam atau pucat pasi keseluruhan
Selebihnya bisa konsultasi ke saya atau rekan-rekan terapis lainnya

Penanganannya bagaimana ? Dilihat saja faktor" nya dulu
Kalau stres ya jalan-jalan
Kalau kurang minum ya perbanyak minum dan seterusnya

Bisa di share ke yang lain nggeh biar nggak cemas dan parno sendiri ????????
Soalnya kalau udah cemas ini nanti kalau diagnosa sendiri bisa kemana-mana sakitnya 
Ada pasien saya cek normal tapi pas kunjungan ke dokter didiagnosa arithmia jantung padahal karena efek cemas
</description>
					                </item><item>
						                <title>Zirah Tubuh dan Rajah Terlarang dalam Novel Bersampul Batik karya Mohammad Hairul</title>
						                <link>https://husnumufid.my.id/berita/detail/zirah-tubuh-dan-rajah-terlarang-dalam-novel-bersampul-batik-karya-mohammad-hairul</link>
						                <description>Zirah Tubuh dan Rajah Terlarang dalam Novel Bersampul Batik karya Mohammad Hairul

Kabar gembira bagi para pecinta sastra tanah air. Penulis Mohammad Hairul resmi memperkenalkan karya terbarunya, sebuah novel mendalam berjudul "Novel Bersampul Batik" yang rilis perdana pada April 2026. 

Novel ini menjanjikan sebuah perjalanan spiritual yang khidmat, menyajikan perpaduan antara ketaatan beragama, dialektika keilmuan, dan pelestarian nilai-nilai luhur dalam balutan tradisi pesantren yang sangat kental.

Mengisahkan perjalanan hidup Aida di Pesantren Darul Marwah, tempat di mana ia berdiri sebagai simbol kesempurnaan santriwati sekaligus penjaga marwah keluarga besar kyai. 

Disajikan dengan narasi yang jujur, reflektif, dan puitis, novel ini menawarkan perspektif yang tajam mengenai kehidupan di balik tembok pesantren. 

Penulisnya mengeksplorasi sisi religiusitas melalui laku hidup yang penuh khidmat, menggambarkan bagaimana pengabdian kepada institusi agama sering kali berbenturan dengan suara hati yang mencari kebenaran hakiki.

Mohammad Hairul menggunakan simbolisme yang kuat melalui sosok Mahiru Khair, seorang lelaki yang membawa "wibawa teduh" dengan guratan huruf hijaiyah di punggungnya. Fenomena spiritual ini digambarkan sebagai warisan dari "tirakat ramah", sebuah laku prihatin dan doa-doa panjang yang dipanjatkan sang ayah demi kemuliaan putranya. 

Karya ini tidak hanya menyuguhkan cerita fiksi yang mengalir, tetapi juga menjadi ruang kontemplasi bagi pembaca untuk memahami bahwa kesalehan bukan sekadar tampilan luar, melainkan kedalaman rasa dan ketulusan dalam menjalani takdir.

Sebelum melangkah lebih jauh ke dalam labirin spiritual yang disajikan, mari simak sekilas pergulatan batin yang menjadi nyawa dalam kisah ini melalui cuplikan blurb ceritanya berikut ini. 

Di Pesantren Darul Marwah, Aida adalah matahari yang meneduhkan, namun di balik ruang bacanya yang terkunci, ia merawat rahasia dalam sampul-sampul buku berbahan wastra. Bagi Aida, setiap lipatan kain Parang, Kawung, dan Sidomukti adalah barikade yang melindungi sebuah kisah lama dari mata suaminya, Gus Haikal.

Rahasia itu adalah tentang Mahiru Khair, sosok yang memikul rahasia huruf hijaiyah gaib yang dianggap sebagai rajah terlarang sekaligus sasaran prasangka. 

Belasan tahun Aida menjadi penjaga kehormatan dalam pernikahan tanpa rasa, hingga sebuah malam peluncuran buku mengancam akan membongkar seluruh lapisan tradisi dan luka yang ia simpan rapat.

Persiapkan diri Anda untuk menyambut kehadiran karya yang akan menyentuh relung hati terdalam ini dan temukan makna kejujuran di balik setiap lembarannya.
Berminat hubungi Muhammad Hoirul  085234482488
</description>
					                </item><item>
						                <title>Pemerintah Diminta Perkuat Pengawasan Ormas</title>
						                <link>https://husnumufid.my.id/berita/detail/pemerintah-diminta-perkuat-pengawasan-ormas</link>
						                <description>Jakarta, 08 Maret 2026 - Pemerintah Indonesia diminta untuk memperkuat pengawasan terhadap organisasi masyarakat (ormas) yang beroperasi di Indonesia. Hal ini untuk menjaga keutuhan dan keamanan negara, serta mencegah penyebaran ideologi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kebangsaan.

Peneliti dan Aktivis, Diar Mandala, menyatakan bahwa pengawasan ormas perlu dilakukan secara efektif. "Ormas yang beroperasi di Indonesia perlu diawasi untuk memastikan bahwa mereka mematuhi peraturan yang berlaku, seperti yang diatur oleh Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham)," katanya.

Diar Mandala menekankan bahwa Kemenkumham harus memiliki kriteria yang jelas dalam memverifikasi ormas. "Kemenkumham harus memastikan bahwa ormas yang beroperasi di Indonesia sesuai dengan peraturan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945," katanya.

Pemerintah diharapkan dapat segera mengambil tindakan konkret untuk memverifikasi ormas dan mengambil langkah-langkah untuk mencegah penyebaran ideologi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kebangsaan.
</description>
					                </item><item>
						                <title>Fenomena Nasab dan Khurofat: Pemerintah Diminta Bertindak Tegas</title>
						                <link>https://husnumufid.my.id/berita/detail/fenomena-nasab-dan-khurofat-pemerintah-diminta-bertindak-tegas</link>
						                <description>Jakarta, 08 Maret 2026 - Fenomena nasab dan khurofat yang melanda masyarakat Indonesia telah menjadi perhatian serius. Peneliti dan Aktivis, Diar Mandala, mengatakan bahwa fenomena ini memiliki potensi untuk memecah belah masyarakat dan merusak aqidah.

"Nasab dan khurofat adalah dua konsep yang sering disalahgunakan untuk kepentingan tertentu," kata Diar Mandala dalam sebuah pernyataan. "Nasab, yang seharusnya menjadi identitas keluarga dan keturunan, seringkali digunakan untuk membedakan dan memisahkan diri dari orang lain."

Diar Mandala menekankan bahwa aqidah dan keimanan bukanlah tentang nasab atau khurofat, tetapi tentang keikhlasan dan ketulusan hati. "Kita perlu bersatu dalam keimanan dan kebersamaan, bukan terpecah belah oleh perbedaan nasab dan khurofat," katanya.

"Kami serahkan semua pada kebijakan pemerintah, kami menunggu ada ketegasan dan perhatian dari pihak berwenang untuk mengatasi fenomena ini," tambah Diar Mandala.

Pemerintah diharapkan dapat segera mengambil tindakan konkret untuk mengatasi fenomena nasab dan khurofat ini dan menjaga persatuan dan aqidah masyarakat Indonesia.
</description>
					                </item><item>
						                <title>Bangsa pemuja Dongeng   </title>
						                <link>https://husnumufid.my.id/berita/detail/bangsa-pemuja-dongeng---</link>
						                <description>By : Dr. Ir. Hadi Prajoko, SH, MH Ketua PP HPK.


Dimanakah negeri pemuja dongeng?, satu lintasan khatulistiwa yang distinasi budaya tinggi punya banyak dongeng dongeng menjadi satu kekuatan atau sebaliknya, yg memilukan, ada dongeng di Sunda kulon seorang satria sakti Sangkuriang  konon katanya bisa menendang perahu menjadi gunung ????, sedangkan di Sunda wetan ada seorang Raja&#39; Angkling Dharma konon katanya paling sakti bisa menjadi burung, bahkan bisa mengukir langit, tetapi juga ada yg memuji Muja tokoh suci bisa membelah bulan, bahkan ada mitos yg lebih seru yaitu mitos buah surga yg sampai hari ini mereka memuja buah kuldi yg konon katanya dari surga, walaupun namanya ada tetapi sampai hari ini gambar dan bentuknya tidak ada manusia yg bisa melukiskan bila dilukis katanya PAMALI.
Aneka ragam dongeng,  sampai- sampai bila sampai difoto dan tidak percaya bisa dibunuh dan dihukum penjara.
Negeri yang membuat kita lingsem, mati akal dan nalar.

Bagaimana bangsa Bangsa yang percaya diri atas kebanggaan akan warisan leluhurnya, seperti Thiongkhok, arab, Yunani dstnya, Kita coba ilustrasi kan.

Kita angkat topi pada orang arab, mereka mengangkat adat tradisi luhur mereka tanpa malu-malu berhadapan dengan orang eropa, dg uniform - pakai an adat nya kemanapun, busana abaya, burqoh,thawb, dishdasha, jubah , jilbab dstnya, walaupun kalau kita lihat bajunya lucu&#39; seperti orang udik tetapi mereka bangga dihadapan orang eropa yg modis dan cakep, tetapi orang arab tidak malu menunjukkan identitas bangsa nya, inilah yg disebut kekuatan nasionalis yg tidak akan membunuh identitas nya sebagai Bangsa, satu kekuatan militansi kecintaan kepada negeri dan Bangsa nya.

Demikian pula bangsa Thiongkhok, dengan baju koko, kebaya Encim, cheongsam, hanfu, tang Suit dstnya yg selalu dipakai oleh presiden China sebagai kekuatan diplomatik yang membuat kekuatan identitas bangsa mereka, banyak ornamen nilai luhur yg dipunyai sebagai kekuatan politik dan diplomasi diplomasi didunia internasional, itulah satu kedaulatan martabat sebagai bangsa Thiongkhok, begitu terbuka menampilkan kekuatan warisan budaya sebagai pertahanan politik dan akar kemajuan modernitas bangsa China.

Pertanyaan nya bagaimana Bangsa Indonesia Nusantara???

Mengapa budaya dan adat profile Bangsa arab, bangsa Thiongkhok seperti baju Koko di negeri ini berubah menjadi lambang ke imananan, lambang moralitas agama, satu firman SUCI dan perintah Tuhannya???

Siapakah yang salah, Bangsa kita atau Bangsa ini memang tidak lagi punya jati diri??

Apakah ada satu kebanggaan Kawulo muda nya tentang warisan itu, satu kenyataan yg memilukan generasi bangsa nya.?

Bagaimana bangsa yg punya spiritual kebudayaan dan p
Tidak punya Tuhan atau sebaliknya???

Apakah Tuhan kita telah di jajah Tuhan orang lain , Bangsa lain atau Tuhan kita dibunuh Bangsa lain??

Indonesia Nusantara menurut buku-buku edaran pemerintah katanya punya budaya luhur, budaya Adi luhung, punya distinasi budaya tinggi, punya portal kebudayaan spiritual yg puncak, atau memang kita sudah kehilangan moralitas dan Budi pekerti palsu, bahkan konon katanya paling beradab tetapi banyak pemimpin agama, rohaniawan agama cabul, sampai murid nya kehilangan ke gadisannya.... sungguh memilukan, Bangsa yg dahulu bisa menjadi pemandu peradaban dgn julukan Wangsa Surya, bangsa matahari, pencerahan yg menyinari kehidupan semesta.

Sebenarnya ini bukan sekedar isu identitas bangsa dan budaya yg lagi sirna.

*Baiklah coba kita uraikan*

*Sciencifik: Perspektif Antropologi dan Sosiologi*

- Dari perspektif antropologi, identitas bangsa dan budaya adalah konsep yang penting bagi perkembangan satu entitas bangsa, yg merupakan relasional moralitas dan jati diri.
- 
- Penelitian telah menunjukkan bahwa identitas bangsa dan budaya harus dipertahankan sebagai kedaulatan suatu bangsa bila itu musnah maka masyarakat kehilangan kepercayaan sebagai Bangsa bahkan kehilangan identitasnya sebagai manusia, hal ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti sejarah, politik, radikalisme agama yg tidak dikontrol bahkan dominasi ekonomi oleh para pendatang dari luar (Geertz, 1960).
- Namun, penelitian juga menunjukkan bahwa identitas bangsa dan budaya dapat menjadi sumber kekuatan dan identitas jati diri untuk membentengi moralitas dan kekuatan jiwa&#39; Bangsa dan berguna untuk ketahanan bagi masyarakat dari ancaman para penjajah dari sisi budaya dan spiritual bangsa (Fanon, 1961).

*Filosofis: Perspektif Kritis dan Rasional*

- Dari perspektif filosofis, identitas bangsa dan budaya dapat dilihat sebagai konsep utama sebagai simbol moralitas dan Pertahanan keamanan Yg multi kompleks.
- Filosof seperti Karl Marx dan Friedrich Nietzsche telah mengkritik bahwa spiritual budaya dan identitas bangsa serta budaya luhur bangsa dapat digunakan sebagai alat untuk mengontrol dan melawan penindasan dan penjajahan masyarakat, satu kemampuan menangkis berbagai ancaman yg biayanya sangat murah (Marx, 1844; Nietzsche, 1887).
- Namun, filosof juga menunjukkan bahwa identitas bangsa dan budaya dapat menjadi sumber kekuatan, sumber moralitas, sumber ketahanan nasional, kemampuan menangkis hancur nya jati diri, dan merupakan kedaulatan identitas bagi masyarakat dan negara (Bloch, 1959).

*Kekuatan Nasionalisme Orang Arab dan orang Thiongkhok*

- Orang Arab dan Bangsa Thiongkhok mampu menunjukkan prestasi budaya spiritual nya sebagai propaganda dunia dgn kekuatan&#39; budaya spiritual nya dan memiliki identitas molaritas Adat dan tradisi nya, bangsa yg merupakan pewaris untuk mewarnai budaya semesta dan budaya spiritual yang kuat dan unik, sebagai propaganda dunia.
- Mereka tidak pernah malu menunjukkan identitas bangsa dan budaya apalagi nilai nilai spiritualitasnya,  mereka bahkan menunjukkan kemampuan percaya diri Bangsa nya di hadapan Bangsa Bangsa dunia bahkan hadapan orang Eropa, apalagi di hadapan Bangsa Indonesia, sampai sampai banyak masyarakat Indonesia akhirnya memakai dan menggunakan budaya arab dan Thiongkhok sebagai spiritual nya.
- itulah fakta modern di Nusantara yg berakar dari kebudayaan Bangsa asing, sebagai gincu gincu propaganda kemajuan moralitas.
- Ini menunjukkan bahwa orang Arab dan Thiongkhok memiliki kekuatan nasionalis yang kuat dan tidak membunuh identitas bangsa mereka, bahkan mampu menjual segala nilai warisan nya termasuk dongeng dongeng mitologi mereka itu sebagai propaganda ibadah agama kepada bangsa lain khususnya Indonesia, bentuk keimanan spiritual.

*Kasus Bangsa Indonesia Nusantara*

- Bangsa Indonesia Nusantara sudah tidak memiliki identitas bangsa dan budaya yang bisa ditampilkan sebagai moralitas dan modernisasi nasional.
- Namun, identitas bangsa dan budaya spiritual , adat dan tradisi Bangsa Indonesia Nusantara seringkali dibunuh sendiri oleh masyarakat, dan kesadaran ini karena kekalahan propaganda dan kehilangan jati diri mereka, banyak faktor-faktor luar, seperti vandalisme dan radikalisme agama dan kekuatan politik budaya luar Yg dipuja puji sebagai kekuatan politik pemerintah.
- Ini menyebabkan identitas bangsa dan budaya Bangsa Indonesia Nusantara seringkali menjadi kabur dan tidak jelas bahkan musnah tanpa menyisakan jejak jejak budaya dan peradaban nya.
- Nusantara sering digunakan sebagai simbol simbol budaya tetapi yg ditampilkan malah kebudayaan asing sebagai pertunjukan fisik dan spiritual bangsa.

*Pertanyaan*

- Mengapa budaya dan adat profile Bangsa Arab dan Thiongkhok di negeri ini berubah menjadi perintah Tuhannya?
- Siapakah yang salah, Bangsa kita atau bangsa yang punya Tuhan, yang telah menjajah Tuhan orang Indonesia Nusantara kah?

*Jawaban*

- Jawabannya adalah bahwa Bangsa Indonesia Nusantara telah telah kehilangan identitasnya dan tidak mampu menemukan kembali jejak peradaban nya banyak faktor-faktor luar, seperti budaya asing yg di bawa agama dg kkekuatan politik, yang menyebabkan identitas bangsa dan budaya mereka sirna menjadi kabur serta kemampuan jati diri menjadi tidak jelas.
- Namun, ini bukan berarti bahwa Bangsa Indonesia Nusantara tidak memiliki kekuatan nasionalis yang kuat tetapi karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang budaya warisan nya sendiri.
- Bangsa Indonesia Nusantara perlu membangun kembali identitas bangsa dan budaya mereka, serta memperkuat kemampuan budaya dan kekuatan nasionalis sendiri dg berbagai macam kebijakan dan penyadaran kepada masyarakat melalui kebijakan pemerintah.


Referensi:

- Bloch, E. (1959). The Principle of Hope.
- Fanon, F. (1961). Les Damnés de la Terre.
- Geertz, C. (1960). The Religion of Java.
- Marx, K. (1844). Critique of Hegel&#39;s Philosophy of Right.
- Nietzsche, F. (1887). On the Genealogy of Morals. ????

TTD 

Kesadaran orang waras 

Gus Nalar
</description>
					                </item><item>
						                <title>Dari Ciganjur Ke Sumenep: Ning Inayah Wahid Resmi Bersanding Dengan Ra Mamak, Lora Poliglot Asal Sum</title>
						                <link>https://husnumufid.my.id/berita/detail/dari-ciganjur-ke-sumenep-ning-inayah-wahid-resmi-bersanding-dengan-ra-mamak-lora-poliglot-asal-sum</link>
						                <description>SUMENEP--Ada kebahagiaan yang tumbuh manis, bukan dari gemerlap lampu sorot, melainkan dari kesederhanaan yang memikat hati. Kabar bahagia akhirnya resmi menyapa publik: Ning Inayah Wulandari Wahid, putri bungsu sang inspirator bangsa, almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), telah resmi menutup lembar masa lajangnya. Ia dipersunting oleh seorang kiai muda berkarisma, KH Muhammad Shalahuddin A. Warits atau yang akrab disapa Ra Mamak, dari Pondok Pesantren Annuqayah, Sumenep, Madura.
 
Sebuah perjalanan cinta yang dimulai dengan akad khidmat di Ciganjur, kini mekar dengan syukuran hangat di tanah Madura. Sebuah pertemuan yang indah antara darah pejuang demokrasi dan keturunan ulama pengasuh pesantren.
 
*Cinta yang Tumbuh dengan Sederhana*
 
Siapa yang tak kenal Inayah Wahid? Wanita tangguh yang mewarisi kecerdasan dan kelucuan khas Gus Dur ini, dikenal dengan gaya bicaranya yang blak-blakan namun penuh kearifan, serta aktivismenya yang kritis. Kini, sosok yang sering membuat warganet tersenyum dengan banyolan-nya yang segar ini, resmi memiliki pendamping hidup.
 
Pasangan yang dipilihnya pun bukan sosok sembarangan. Ra Mamak, demikian panggilan akrab sang suami, adalah putra dari KH. Abd. Warits Ilyas dan merupakan pengasuh muda di Pondok Pesantren Annuqayah, Lubangsa Raya, Sumenep. Gelar "Lora" atau "Ra" yang disandangnya bukan sekadar sebutan, melainkan penghormatan tinggi karena ia adalah putra kiai yang memiliki kedudukan istimewa dan dihormati di lingkungan pesantren.
 
Prosesi akad nikah keduanya sebenarnya telah dilaksanakan sejak awal tahun 2025 lalu, tepatnya pada Rabu, 22 Rajab 1446 H atau bertepatan dengan 22 Januari 2025. Acara sakral itu digelar secara sangat tertutup dan sederhana di kediaman keluarga di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan. Wali nikah yang mengikrarkan janji suci saat itu adalah Umar Wahid, dan hanya dihadiri oleh keluarga inti kedua belah pihak. Benar-benar momen sakral yang dijaga privasinya dengan sangat baik.
 
Barulah pada bulan April 2026 ini, kebahagiaan itu dibagikan secara luas kepada khalayak melalui acara syukuran dan silaturahmi besar yang digelar di Pondok Pesantren Annuqayah. Kedatangan rombongan keluarga besar Wahid disambut dengan hangat dan penuh kekeluargaan oleh seluruh warga pesantren dan masyarakat Sumenep.
 
Kiai Masa Kini yang Multitalenta
 
Lahir pada 16 April 1982, Ra Mamak ternyata sosok kiai yang sangat update dan berwawasan luas. Selain sibuk mengasuh pesantren dan mendidik santri, ia juga merupakan dosen tetap di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) sejak tahun 2015.
 
Yang membuat publik makin terkagum-kagum, kiai satu ini adalah seorang poliglot sejati! Ia tidak hanya fasih berbahasa Arab sebagai bahasa agama, tapi juga menguasai bahasa Inggris dan bahkan bahasa Prancis. Wah, bayangkan saja, diskusi rumah tangga nanti bisa pakai bahasa apa saja, mulai dari gaya khas Madura yang tegas sampai percakapan santai ala Paris kalau lagi mau romantis. Pintar, alim, dan punya wawasan internasional. Pasangan yang sangat lengkap!
 
Kedua mempelai terlihat betapa serasinya pasangan ini.Ning Inayah tampil anggun dan cantik dengan busana putih bersih beserta kerudung senada, berdampingan dengan Ra Mamak yang tampak gagah dan berwibawa. Suasana akad dan resepsi pun terasa sangat syahdu, penuh doa, dan kental dengan nuansa pesantren yang mendamaikan hati.
 
*Makna Di Balik Pertemuan Ini*
 
Pernikahan Inayah Wahid dan Ra Mamak ini bagai menyatukan dua dunia yang sama-sama besar namun tetap berpijak pada kesederhanaan. Di satu sisi ada darah dan semangat dari keluarga Gus Dur yang terkenal liberal, inklusif, dan penuh humor. Di sisi lain ada tradisi kuat pesantren Madura yang dikenal teguh, disiplin, dan kental akan nilai-nilai keislaman.
 
Namun, perbedaan latar justru menjadi bumbu yang indah. Ini membuktikan bahwa cinta dan pernikahan adalah tentang menyatukan visi, bukan memaksakan kesamaan. Gaya pernikahan mereka yang sederhana, jauh dari kesan wah atau pamer, sangat mencerminkan ajaran Gus Dur yang selalu mengajarkan hidup apa adanya dan memanusiakan manusia.
 
Kesan "romantis" di sini bukan terlihat dari hadiah mahal, tapi dari bagaimana Ra Mamak siap menerima Inayah apa adanya, dan bagaimana Inayah menemukan sosok pelindung yang bisa mengimbangi kecerdasannya. Sebuah pernikahan yang dibangun di atas dasar taqwa, persahabatan, dan tentu saja... selera humor yang baik!
 
*Selamat Menempuh Hidup Baru, Semoga Selalu Kompak!*
 
Selamat menempuh hidup baru untuk Ning Inayah Wahid dan Kang Ra Mamak! Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat, berkah, dan kasih sayang di antara kalian berdua.
 
Semoga rumah tangga kalian nanti selalu dipenuhi tawa canda seperti gaya khas keluarga Wahid, namun tetap kokoh dan tenang seperti ketenangan seorang kiai. Jangan lupa, kalau ada masalah kecil, ingat saja pesan kakeknya: "Sesulit apa pun hidup, kalau bisa ditertawakan, berarti kita menang."
 
Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Dan yang paling penting: semoga langgeng terus, jangan sampai ada yang baper atau ngambek lama-lama ya! Hehehe. Barakallah untuk kalian berdua!.*Imam Kusnin Ahmad*
</description>
					                </item><item>
						                <title>Lora Ismail Bangkalan Disoal</title>
						                <link>https://husnumufid.my.id/berita/detail/lora-ismail-bangkalan-disoal</link>
						                <description>Dekonstruksi Nalar Lora Ismail di Haul Soleh Tanggul: Kritik Intelektual dan Teologis.

By : Sang Pengkritik

Pernyataan Lora Ismail yang melabeli kritik kesejarahan sebagai framing jahat menunjukkan kegagalan dalam membedakan antara sentimen personal dan dialektika ilmiah. Jika Lora Ismail memahami warisan kakeknya intelektual KH. Kholil Bangkalan, ia seharusnya mengedepankan akurasi kitab, bukan sekadar romantisme haul.

1. Pengkhianatan terhadap Standar Akidah KH. Kholil Bangkalan

KH. Kholil Bangkalan dikenal sebagai penjaga gawang Ahlussunnah Wal Jamaah yang sangat ketat dalam urusan tauhid dan syariat. Namun, Lora Ismail justru terlihat permisif—bahkan membela—narasi khurafat yang diproduksi oknum ba&#39;lawi:

 * Eskatologi Palsu: 

Klaim bahwa keturunan ba&#39;alawi bisa bertobat di dalam kubur adalah penyesatan teologis yang nyata. Hal ini menabrak konsensus hadis mengenai batas waktu tobat (ma lam yugharghir). Membela narasi ini sama saja dengan meruntuhkan fondasi hukum Islam yang diajarkan di pesantren-pesantren NU.

 * Kultus Individu Melampaui Kenabian: 

Narasi mikraj tokoh ba&#39;alawi sebanyak 70 kali sehari bukan sekadar keramat, melainkan penghinaan terhadap eksklusivitas mukjizat Nabi Muhammad saw. KH. Hasyim Asy&#39;ari, murid terkemuka KH. Kholil Bangkalan, dalam Risalah Ahlussunnah Wal Jamaah secara tegas mengutip kitab Asy-Syifa bahwa klaim mikraj serupa Nabi adalah kekufuran. Di mana posisi Lora Ismail saat kitab murid kakeknya, para kiai penerus perjuangan dan intelektualitas kakeknya ini dikangkangi oleh dongeng-dongeng ba&#39;alawi?

2. Degradasi Martabat Ulama Pribumi

Sangat memprihatinkan melihat seorang Lora yang nyaman berlindung di bawah subordinasi klan ba&#39;lawi. Narasi bahwa satu ba&#39;lawi bodoh setara dengan 70 kiai alim adalah serangan langsung terhadap marwah pesantren. 

KH. Kholil Bangkalan membangun Bangkalan sebagai pusat ilmu, bukan &#39;pusat penyembahan nasab&#39; tanpa kualitas. Sikap Lora Ismail yang mendiamkan penghinaan terhadap tokoh pendiri NU KH. Hasyim Asy&#39;ari, dan seperti Gus Dur, KH. Ma&#39;ruf Amin atau KH. Said Aqil Siradj oleh Ba&#39;alawi menunjukkan hilangnya taring kepemimpinan intelektual pribumi. 

3. Bias "Stockholm Syndrome" Spiritual

Lora Ismail terjebak dalam apa yang tampak sebagai penjajahan spiritual. Ia lebih memilih mengamankan kedekatan personal dengan tokoh-tokoh ba&#39;lawi di acara seremonial daripada melakukan verifikasi terhadap kitab-kitab bermasalah seperti Masra&#39;ul Rawi, Syarah Ainiah, Tuhfatul Ahbab atau Rasfatus Shadi dll.. Klaim bahwa Faqih Muqoddam mengaku Allah dan tidak butuh Nabi Muhammad, juga ba&#39;alawi boleh masuk rumah siapa saja tanpa izin adalah bentuk anarkisme syariat yang jika dibiarkan akan merusak tatanan sosial masyarakat.

4. Kesimpulan,

Urgensi Al-Haq

Integritas seorang ulama diukur dari keberaniannya menyuarakan kebenaran (Al-Haq) di atas kepentingan golongan atau nasab. Lora Ismail gagal menunjukkan kapasitasnya sebagai pewaris mental KH. Kholil Bangkalan yang tegas terhadap penyimpangan. Alih-alih meluruskan umat dari dongeng horor—seperti jenazah makan semangka atau mayat menghamili istri, bahkan mengislamkan orang kafir dikuburnya—Lora Ismail justru menjadi tameng bagi produsen khurafat tersebut.

Sangat ironis ketika seorang keturunan dari Syaikhona justru terjebak dalam pembelaan buta terhadap narasi yang secara diametral bertentangan dengan prinsip dasar akidah dan keilmuan kakek buyutnya.

Indonesia tidak butuh figur yang hanya pandai bersolek dengan gelar nasab namun lumpuh secara nalar kritis. Jika Lora Ismail tetap memilih tuli dan buta terhadap kebusukan literatur ba&#39;lawi, maka ia secara sukarela sedang menghapus dirinya dari silsilah perjuangan ilmu pengetahuan yang telah dibangun oleh kakeknya, bahkan dengan darah dan air mata oleh para kiai nusantara.
</description>
					                </item></channel>
  	</rss>