Oleh : KH. Ma’ruf Amin.
Wakil Presiden ke-13 RI, KH. Ma’ruf Amin, melontarkan sebuah pesan mendalam yang seketika memantik perenungan besar bagi seluruh kader Nahdlatul Ulama (NU). Dalam peluncuran buku karyanya, beliau menegaskan:
"Ber-NU harus dengan bashirah, bukan dengan bisyarah".
Di tengah momentum abad kedua NU, kalimat singkat ini menjadi tamparan sekaligus kompas ideologis yang sangat jenius.
Beliau mengajak seluruh pengurus dan warga Nahdliyin untuk beralih dari sekadar bangga pada kuantitas (jumlah massa), menuju penguatan kualitas organisasi yang kokoh.
1. Ber-NU ala Bashirah:
Kokoh secara Ideologi
Bashirah adalah ilmu yang mendalam, pandangan batin, pemahaman kuat, serta landasan argumen yang jelas ('ala hujjatin wadhihah). Esensinya Masuk dan aktif di NU tidak boleh sekadar "ikut-ikutan" arus, faktor keturunan, atau identitas buta. Penerapannya: Pengurus NU di semua tingkatan wajib mengakar pada tiga pilar utama:
Fikrah (Cara Berpikir):
Mengadopsi pemikiran moderat (tawassuth) warisan para pendiri.
Manhaj (Metode):
Patuh pada sistem pengambilan keputusan dan hukum yang jelas.
Harakah (Gerakan):
Bergerak secara terarah demi kemaslahatan umat.
2. Bukan karena Bisyarah
Artinya Secara bahasa berarti kabar gembira. Namun dalam tradisi pesantren, kata ini sering menjadi kelakar untuk menyebut "amplop", ongkos, atau insentif material. Esensinya Sentilan keras bagi oknum yang bergerak di organisasi demi memburu keuntungan finansial sesaat atau kepentingan pragmatis. Risikonya Ketika bisyarah (materi) dijadikan bahan bakar berorganisasi, maka komitmen seseorang akan mudah goyah, luntur, dan berbelok saat keuntungan tersebut hilang.
Kejeniusan maqolah (perkataan) KH. Ma'ruf Amin terletak pada kemampuannya menyederhanakan kritik otokritik yang sangat berat menjadi kalimat yang mudah diingat. Ber-NU dengan bashirah akan melahirkan pejuang yang tidak mempan dibeli oleh situasi politik maupun ekonomi.
Sebaliknya, ber-NU karena bisyarah hanya akan menyisakan organisasi yang rapuh.





LEAVE A REPLY