Oleh M Sholeh Basyari
Kencangnya rumor adanya calon Rois aam dan caketum PBNU "paket istana", membuat masygul keluarga besar NU.
Meski banyak yang meyakini bahwa paket tersebut mengada-ada, tetapi banyak pula yang terkecoh dengan gerakan ini.
Duduk Perkara "Paket Istana"
Awalnya beredar kabar bahwa sejumlah menteri dan wakil menteri (minus Muhaimin Iskandar) dari NU bertemu dengan orang-orang dekat presiden Prabowo. Pertemuan tersebut membahas muktamar NU, terutama terkait posisi Miftahul Akhyar dan Abdul hakim Mahfud (Gus kikin).
Sejumlah fihak mencermati, mendiskusikan, menyimpulkan dan mengambil sejumlah sikap atas kabar dan hasil pertemuan tersebut.
Pertama, kabar terkait paket istana adalah halusinasi, hayalan dan rekayasa Saifullah dan Nusron Wahid. Kenapa?
NU tidak memiliki persoalan dengan presiden Prabowo berikut program-,program prioritasnya. Presiden Prabowo juga telah membangun komunikasi dan jaringan dengan sejumlah kyai dan pesantren jauh sejak menjadi komandan jenderal kopassus.
Presiden Prabowo jauh lebih awal mengenal keluarga besar pesantren Ploso, Kediri, ketimbang dengan Saifullah Yusuf, apalagi nusron Wahid.
Oleh karena itu, nyaris mustahil Prabowo cawe-cawe, bahkan menentukan Rois aam dan ketum dalam satu paket.
Kedua, klaim adanya paket istana yang disodorkan oleh Ipul yang telah "ishlah" dengan Nusron, harus dibaca sebagai gagalnya Ipul mendongkrak namanya akibat berada pada pusaran konflik satu tahun belakangan dengan kubu Yahya Tsaquf.
Juga, kabar adanya paket istana ini, ideal jika dibaca sebagai bentuk gagal dan frustasinya Nusron, masuk dalam lingkaran inti yahya maupun Muhaimin.
Ketiga, munculnya figur Gus kikin, yang dipertanyakan kapasitas penguasaan turast dan teks keislaman pesantren, sebagai caketum, dipandang sebagai caketum "boneka" di tengah kebhinekaan sumberdaya keilmuan calon-calon ketum yang lain.
Gus kikin yang non partisan, dicoba ditawarkan dijajakan oleh duet ipul-nusron ke Gerindra. Figur Gus kikin yang "lunak" untuk tidak menyebut lemah, memudahkan bagi Ipul dan Nusron untuk mengontrol, mengendalikan dan "memperalat".
Presiden Prabowo "Ditilap"
Beredarnya kabar rapat di lingkaran istana terkait NU, tanpa kehadiran presiden, memunculkan spekulasi dan dugaan bahwa presiden Prabowo "ditilap"; sengaja tidak diberitahu dan tidak "dilibatkan".
Paket istana itu seolah-olah benar adanya. Sejumlah reasoning dan peristiwa dibangun untuk meneguhkan keberadaan paket tersebut. Hal ini mulai dari tempat rapat, keterlibatan "orang-orang istana", serta hasilnya yang membuat publik sangsi dan bertanya-tanya .
Tujuan dari "sosialisasi" paket istana ini adalah meraih kemenangan dengan jalan mudah. Tujuan lain bisa menjadi sebagai bluffing calon lain. Bluffing dalam konteks "Lo g sah coba-coba maju, nih presiden susah menunjuk calon Rois Aam dan ketum'.
Penutup
Di era nyaris semua warga NU melek politik, serta di era digital yang mana semua informasi menyebar melebihi kecepatan cahaya dan suara, bluffing, rekayasa, skenario dan imajinasi yang tidak terukur dan rasional, akan roboh sebelum masuk gerbang muktamar.
Di samping itu, saat ini kekuatan NU menyebar tidak hanya di Jawa, Lampung dan Kalimantan Selatan, bahkan Papua-pun materi ghirah, ghibah dan pemahaman tentang NU, merata. Menyebut-nyebut paket istana di era melek politik, keterbukaan informasi dan mudahnya membangun akses dengan presiden Prabowo maupun orang-orangnya, tak ubahnya menebak-nebak nomor keberuntungan bagi pemasang togel Wallahu A'lam
Penulis adalah Wasekjen PB iKA PMII, Dosen Insuri Ponorogo





LEAVE A REPLY