Home Opini Bangsa pemuja Dongeng

Bangsa pemuja Dongeng

23
0
SHARE
Bangsa pemuja Dongeng

By : Dr. Ir. Hadi Prajoko, SH, MH Ketua PP HPK.


Dimanakah negeri pemuja dongeng?, satu lintasan khatulistiwa yang distinasi budaya tinggi punya banyak dongeng dongeng menjadi satu kekuatan atau sebaliknya, yg memilukan, ada dongeng di Sunda kulon seorang satria sakti Sangkuriang  konon katanya bisa menendang perahu menjadi gunung ????, sedangkan di Sunda wetan ada seorang Raja' Angkling Dharma konon katanya paling sakti bisa menjadi burung, bahkan bisa mengukir langit, tetapi juga ada yg memuji Muja tokoh suci bisa membelah bulan, bahkan ada mitos yg lebih seru yaitu mitos buah surga yg sampai hari ini mereka memuja buah kuldi yg konon katanya dari surga, walaupun namanya ada tetapi sampai hari ini gambar dan bentuknya tidak ada manusia yg bisa melukiskan bila dilukis katanya PAMALI.
Aneka ragam dongeng,  sampai- sampai bila sampai difoto dan tidak percaya bisa dibunuh dan dihukum penjara.
Negeri yang membuat kita lingsem, mati akal dan nalar.

Bagaimana bangsa Bangsa yang percaya diri atas kebanggaan akan warisan leluhurnya, seperti Thiongkhok, arab, Yunani dstnya, Kita coba ilustrasi kan.

Kita angkat topi pada orang arab, mereka mengangkat adat tradisi luhur mereka tanpa malu-malu berhadapan dengan orang eropa, dg uniform - pakai an adat nya kemanapun, busana abaya, burqoh,thawb, dishdasha, jubah , jilbab dstnya, walaupun kalau kita lihat bajunya lucu' seperti orang udik tetapi mereka bangga dihadapan orang eropa yg modis dan cakep, tetapi orang arab tidak malu menunjukkan identitas bangsa nya, inilah yg disebut kekuatan nasionalis yg tidak akan membunuh identitas nya sebagai Bangsa, satu kekuatan militansi kecintaan kepada negeri dan Bangsa nya.

Demikian pula bangsa Thiongkhok, dengan baju koko, kebaya Encim, cheongsam, hanfu, tang Suit dstnya yg selalu dipakai oleh presiden China sebagai kekuatan diplomatik yang membuat kekuatan identitas bangsa mereka, banyak ornamen nilai luhur yg dipunyai sebagai kekuatan politik dan diplomasi diplomasi didunia internasional, itulah satu kedaulatan martabat sebagai bangsa Thiongkhok, begitu terbuka menampilkan kekuatan warisan budaya sebagai pertahanan politik dan akar kemajuan modernitas bangsa China.

Pertanyaan nya bagaimana Bangsa Indonesia Nusantara???

Mengapa budaya dan adat profile Bangsa arab, bangsa Thiongkhok seperti baju Koko di negeri ini berubah menjadi lambang ke imananan, lambang moralitas agama, satu firman SUCI dan perintah Tuhannya???

Siapakah yang salah, Bangsa kita atau Bangsa ini memang tidak lagi punya jati diri??

Apakah ada satu kebanggaan Kawulo muda nya tentang warisan itu, satu kenyataan yg memilukan generasi bangsa nya.?

Bagaimana bangsa yg punya spiritual kebudayaan dan p
Tidak punya Tuhan atau sebaliknya???

Apakah Tuhan kita telah di jajah Tuhan orang lain , Bangsa lain atau Tuhan kita dibunuh Bangsa lain??

Indonesia Nusantara menurut buku-buku edaran pemerintah katanya punya budaya luhur, budaya Adi luhung, punya distinasi budaya tinggi, punya portal kebudayaan spiritual yg puncak, atau memang kita sudah kehilangan moralitas dan Budi pekerti palsu, bahkan konon katanya paling beradab tetapi banyak pemimpin agama, rohaniawan agama cabul, sampai murid nya kehilangan ke gadisannya.... sungguh memilukan, Bangsa yg dahulu bisa menjadi pemandu peradaban dgn julukan Wangsa Surya, bangsa matahari, pencerahan yg menyinari kehidupan semesta.

Sebenarnya ini bukan sekedar isu identitas bangsa dan budaya yg lagi sirna.

*Baiklah coba kita uraikan*

*Sciencifik: Perspektif Antropologi dan Sosiologi*

- Dari perspektif antropologi, identitas bangsa dan budaya adalah konsep yang penting bagi perkembangan satu entitas bangsa, yg merupakan relasional moralitas dan jati diri.

- Penelitian telah menunjukkan bahwa identitas bangsa dan budaya harus dipertahankan sebagai kedaulatan suatu bangsa bila itu musnah maka masyarakat kehilangan kepercayaan sebagai Bangsa bahkan kehilangan identitasnya sebagai manusia, hal ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti sejarah, politik, radikalisme agama yg tidak dikontrol bahkan dominasi ekonomi oleh para pendatang dari luar (Geertz, 1960).
- Namun, penelitian juga menunjukkan bahwa identitas bangsa dan budaya dapat menjadi sumber kekuatan dan identitas jati diri untuk membentengi moralitas dan kekuatan jiwa' Bangsa dan berguna untuk ketahanan bagi masyarakat dari ancaman para penjajah dari sisi budaya dan spiritual bangsa (Fanon, 1961).

*Filosofis: Perspektif Kritis dan Rasional*

- Dari perspektif filosofis, identitas bangsa dan budaya dapat dilihat sebagai konsep utama sebagai simbol moralitas dan Pertahanan keamanan Yg multi kompleks.
- Filosof seperti Karl Marx dan Friedrich Nietzsche telah mengkritik bahwa spiritual budaya dan identitas bangsa serta budaya luhur bangsa dapat digunakan sebagai alat untuk mengontrol dan melawan penindasan dan penjajahan masyarakat, satu kemampuan menangkis berbagai ancaman yg biayanya sangat murah (Marx, 1844; Nietzsche, 1887).
- Namun, filosof juga menunjukkan bahwa identitas bangsa dan budaya dapat menjadi sumber kekuatan, sumber moralitas, sumber ketahanan nasional, kemampuan menangkis hancur nya jati diri, dan merupakan kedaulatan identitas bagi masyarakat dan negara (Bloch, 1959).

*Kekuatan Nasionalisme Orang Arab dan orang Thiongkhok*

- Orang Arab dan Bangsa Thiongkhok mampu menunjukkan prestasi budaya spiritual nya sebagai propaganda dunia dgn kekuatan' budaya spiritual nya dan memiliki identitas molaritas Adat dan tradisi nya, bangsa yg merupakan pewaris untuk mewarnai budaya semesta dan budaya spiritual yang kuat dan unik, sebagai propaganda dunia.
- Mereka tidak pernah malu menunjukkan identitas bangsa dan budaya apalagi nilai nilai spiritualitasnya,  mereka bahkan menunjukkan kemampuan percaya diri Bangsa nya di hadapan Bangsa Bangsa dunia bahkan hadapan orang Eropa, apalagi di hadapan Bangsa Indonesia, sampai sampai banyak masyarakat Indonesia akhirnya memakai dan menggunakan budaya arab dan Thiongkhok sebagai spiritual nya.
- itulah fakta modern di Nusantara yg berakar dari kebudayaan Bangsa asing, sebagai gincu gincu propaganda kemajuan moralitas.
- Ini menunjukkan bahwa orang Arab dan Thiongkhok memiliki kekuatan nasionalis yang kuat dan tidak membunuh identitas bangsa mereka, bahkan mampu menjual segala nilai warisan nya termasuk dongeng dongeng mitologi mereka itu sebagai propaganda ibadah agama kepada bangsa lain khususnya Indonesia, bentuk keimanan spiritual.

*Kasus Bangsa Indonesia Nusantara*

- Bangsa Indonesia Nusantara sudah tidak memiliki identitas bangsa dan budaya yang bisa ditampilkan sebagai moralitas dan modernisasi nasional.
- Namun, identitas bangsa dan budaya spiritual , adat dan tradisi Bangsa Indonesia Nusantara seringkali dibunuh sendiri oleh masyarakat, dan kesadaran ini karena kekalahan propaganda dan kehilangan jati diri mereka, banyak faktor-faktor luar, seperti vandalisme dan radikalisme agama dan kekuatan politik budaya luar Yg dipuja puji sebagai kekuatan politik pemerintah.
- Ini menyebabkan identitas bangsa dan budaya Bangsa Indonesia Nusantara seringkali menjadi kabur dan tidak jelas bahkan musnah tanpa menyisakan jejak jejak budaya dan peradaban nya.
- Nusantara sering digunakan sebagai simbol simbol budaya tetapi yg ditampilkan malah kebudayaan asing sebagai pertunjukan fisik dan spiritual bangsa.

*Pertanyaan*

- Mengapa budaya dan adat profile Bangsa Arab dan Thiongkhok di negeri ini berubah menjadi perintah Tuhannya?
- Siapakah yang salah, Bangsa kita atau bangsa yang punya Tuhan, yang telah menjajah Tuhan orang Indonesia Nusantara kah?

*Jawaban*

- Jawabannya adalah bahwa Bangsa Indonesia Nusantara telah telah kehilangan identitasnya dan tidak mampu menemukan kembali jejak peradaban nya banyak faktor-faktor luar, seperti budaya asing yg di bawa agama dg kkekuatan politik, yang menyebabkan identitas bangsa dan budaya mereka sirna menjadi kabur serta kemampuan jati diri menjadi tidak jelas.
- Namun, ini bukan berarti bahwa Bangsa Indonesia Nusantara tidak memiliki kekuatan nasionalis yang kuat tetapi karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang budaya warisan nya sendiri.
- Bangsa Indonesia Nusantara perlu membangun kembali identitas bangsa dan budaya mereka, serta memperkuat kemampuan budaya dan kekuatan nasionalis sendiri dg berbagai macam kebijakan dan penyadaran kepada masyarakat melalui kebijakan pemerintah.


Referensi:

- Bloch, E. (1959). The Principle of Hope.
- Fanon, F. (1961). Les Damnés de la Terre.
- Geertz, C. (1960). The Religion of Java.
- Marx, K. (1844). Critique of Hegel's Philosophy of Right.
- Nietzsche, F. (1887). On the Genealogy of Morals. ????

TTD 

Kesadaran orang waras 

Gus Nalar