By Dr. Ir. Hadi Prajoko, SH.
Apokaliptisisme dan Tradisi Ramalan yang Selalu Ditunda, akan datangnya Imam Besar.
Dalam berbagai komunitas religius, ramalan mengenai kehancuran musuh kosmis telah lama menjadi bagian dari narasi teologis.
Israel, misalnya, berkali-kali diposisikan sebagai simbol antagonis dalam skenario apokaliptik. Tahun 2022 pernah disebut-sebut sebagai titik kehancurannya kiamat dunia Kenyataannya, kalender terus bergerak, kehidupan bertambah parah sementara negara yang diramalkan runtuh itu tetap berdiri, sampai sampai presiden harus bertanya-tanya mengapa anak perusahaan BUMN tidak Bisa di audit secara terbuka dan ditutupi, bila diaudit maka rakyat akan melihat neraka' jahanam yg sebenarnya.
Ketika ramalan pertama gagal, narasi baru segera muncul. Kali ini, peristiwa politik tertentu misalnya kemungkinan naiknya tokoh seperti Mojtaba Khamenei ditafsirkan sebagai juru selamat yg disebut IMAM MAHDHI, pertanda akan datangnya kehancuran Amerika Serikat dan Israel. Pola ini menunjukkan sesuatu yang menarik: ramalan tidak pernah benar-benar berakhir; ia hanya selalu diperbarui.
Fenomena ini bukan hal baru dalam sejarah agama agama .
Dalam banyak tradisi keimanan, keyakinan terhadap akhir zaman atau kiamat sering disertai dengan penjadwalan imajiner tentang kapan sejarah akan berakhir.
Para penganutnya menanti datangnya figur-figur kosmis seperti Imam Mahdi, Dajjal, atau sang juru selamat, bangkit nya nabi Isa dstnya, peristiwa kiamat yang diyakini akan segera tiba, membebaskan dari perbudakan manusia, sehingga penderitaan rakyat atau manusia segera sirna.
Namun sejarah menunjukkan pola yang konsisten: hukum alam selalu lebih berkuasa,
setiap tanggal dan waktu yang ditetapkan selalu lewat tanpa peristiwa kosmik yang dijanjikan, kenyataan itu semua adalah halusinasi dan sugesti, surga tidak pernah hadir yg dirasakan adalah neraka', demikian pula dengan seorang satria paningit, hanya bentuk ketidaksadaran kolektif karena penatnya penderitaan hidup rakyat.
Alih-alih meninggalkan keyakinan tersebut, dan tumbuh KESADARAN banyak komunitas yang memegang keyakinan tersebut sering melakukan apa yang oleh sosiolog dan operator agama disebut “penyesuaian kognitif”. Ketika ramalan gagal, penjelasan baru diciptakan: waktu Tuhan berbeda dengan waktu manusia, tanda-tanda masih dalam proses, atau ramalan hanya “ditunda”, atau Tuhan masih memberikan multiple cois, ujian semester akhir.
Dengan cara itu, ramalan yang salah tidak pernah benar-benar dianggap salah; ia hanya ditafsirkan ulang, dg bangunan sugesti yg lebih kuat mencengkram.
Dari sudut pandang rasional dan berfikir Waras pola ini menunjukkan bahwa ramalan apokaliptik sering kali lebih berfungsi sebagai alat psikologis, apa yg disebut SUGESTI tenung,gendam, teluh dan politik operator pabrik halusinasi, daripada sebagai pengetahuan yang dapat diverifikasi , Dan daripada untuk diajak bernalar kesadaran.
Ia memberi harapan pada para pengikutnya takut kehilangan umat dan jamaah, menciptakan rasa berada dalam lindungan pemimpin pemuka pemuka agama dan di bangun harapan bahwa “sejarah yang benar”, telah menyediakan narasi dramatis bahwa musuh akan segera dihancurkan oleh takdir ilahi, tetapi harus bertahan walaupun harus menderita kanker rohani.
Masalahnya sederhana: sejarah tidak berjalan mengikuti kalender wahyu, dan tidak patuh pada firman Para pemimpin rohani, tetapi yg sebenarnya adalah pengorbanan untuk sang penjual khutbah.
Peradaban manusia berkembang melalui proses cultural , sosial, politik, dan ilmiah, tetapi dipasung oleh Para penguasa rohani agama yang kompleks bukan melalui jadwal kiamat yang terus direvisi. Ketika ramalan demi ramalan terus meleset, pertanyaan rasional seharusnya muncul:
Apakah masalahnya terletak pada waktunya, atau pada metode berpikir yang melahirkan ramalan itu sendiri?
Dan,
Apakah Tuhan masih ingin berkuasa menjadikan manusia sebagai bahan percobaan???? ????
Barangkali yang perlu dipertimbangkan bukanlah kapan kiamat akan datang, melainkan mengapa manusia terus-menerus merasa perlu meramalkannya, akan datang nya dewa penyelamat atau nabi terakhir, Yg disebut IMAM MAHDHI dewa dari segala dewa dan nabi dari semua nabi agama dan umat manusia.
Tetap semangat, bangun kesadaran berfikir waras.
Kembali kan budaya luhur Nusantara dan PANCASILA
Analisis astro spiritual
*Sciencifik: Perspektif Psikologi dan Sosiologi*
- Dari perspektif psikologi, fenomena apokaliptisisme dan tradisi ramalan dapat dilihat sebagai bentuk sugesti dan harapan yang kuat.
- Penelitian telah menunjukkan bahwa orang-orang yang memiliki harapan dan keyakinan yang kuat terhadap ramalan apokaliptik cenderung memiliki tingkat stres dan kecemasan yang lebih rendah (Newport, 2018).
- Namun, penelitian juga menunjukkan bahwa ramalan apokaliptik yang gagal dapat menyebabkan disonansi kognitif dan kehilangan harapan (Festinger, 1957).
*Filosofis: Perspektif Kritis dan Rasional*
- Dari perspektif filosofis, fenomena apokaliptisisme dan tradisi ramalan dapat dilihat sebagai bentuk kritik terhadap masyarakat dan kekuasaan.
- Filosof seperti Karl Marx dan Friedrich Nietzsche telah mengkritik bahwa agama dan ramalan apokaliptik dapat digunakan sebagai alat untuk mengontrol dan menindas masyarakat (Marx, 1844; Nietzsche, 1887).
- Namun, filosof juga menunjukkan bahwa ramalan apokaliptik dapat menjadi bentuk harapan dan perlawanan terhadap kekuasaan dan penindasan (Bloch, 1959).
*Kritik terhadap Ramalan Apokaliptik*
- Ramalan apokaliptik seringkali didasarkan pada interpretasi yang salah dan tidak akurat terhadap teks-teks agama dan sejarah.
- Ramalan apokaliptik dapat menyebabkan kerugian dan penderitaan bagi masyarakat, terutama mereka yang memiliki harapan dan keyakinan yang kuat.
- Ramalan apokaliptik dapat digunakan sebagai alat untuk mengontrol dan menindas masyarakat, serta membenarkan kekerasan dan penindasan.
*Pancasila dan Budaya Luhur Nusantara*
- Pancasila adalah sebuah konsep yang sangat penting dalam konteks Indonesia, yang mencakup nilai-nilai seperti keadilan, kesederhanaan, dan kesadaran akan keberadaan Tuhan.
- Budaya luhur Nusantara memiliki nilai-nilai yang sangat kaya dan beragam, yang dapat menjadi dasar bagi pembangunan masyarakat yang lebih adil dan sejahtera.
Referensi:
- Bloch, E. (1959). The Principle of Hope.
- Festinger, L. (1957). A Theory of Cognitive Dissonance.
- Marx, K. (1844). Critique of Hegel's Philosophy of Right.
- Nietzsche, F. (1887). On the Genealogy of Morals.
- Newport, F. (2018). The Psychology of Hope.





LEAVE A REPLY