Home agama Pasangan Bahagia Suami Istri : Tanda-Tanda Kekuasaan Allah (Belajar Kehidupan Keluarga Mas Angga)

Pasangan Bahagia Suami Istri : Tanda-Tanda Kekuasaan Allah (Belajar Kehidupan Keluarga Mas Angga)

10
0
SHARE
Pasangan Bahagia Suami Istri : Tanda-Tanda Kekuasaan Allah (Belajar Kehidupan Keluarga Mas Angga)

Oleh : H. Yahya Aziz, Penulis Buku Haji Bahagia - Haji Taubat

Mas Angga adalah lulusan pesantren, guru ngaji madrasah diniyah, sekaligus seorang petani desa. Istrinya, Halimah, adalah gadis desa yang hafidzoh, penghafal Al-Qur'an.

Mereka pasangan suami istri yang bahagia. Saling tersenyum penuh cinta. Tinggal di desa, di rumah kayu yang sederhana, dengan sepetak sawah hijau di belakangnya. Adem, sejuk, syahdu.

Inilah keluarga Sakinah, Mawaddah, Wa Rahmah. Barokah, Salamah, dan Mardhiyyah.
(Lihat buku Manis Pahit Taubatnya Peselingkuh 2012)

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖۤ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَا جًا لِّتَسْكُنُوْۤا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰ يٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir."
(QS. Ar-Rum 30: Ayat 21)

Ayat di atas pendek, tapi maknanya luas dan menggetarkan hati.

Bayangkan Mas Angga, pemuda sederhana. Pagi dan siang menjadi petani, sore dan malam menjadi guru ngaji. Istrinya penghafal Qur'an, juga sangat sederhana. Tapi mereka BAHAGIA. Bukan soal harta, bukan soal pangkat. Inilah kekuasaan Allah. Bahagia itu hadiah dari Allah, walaupun hidup sederhana.

Apa hadiah Allah untuk pasangan Mas Angga dan Neng Halimah, keluarga sederhana tapi serasa hidup di istana walaupun tinggal di pedesaan?

Tiga hadiah dari Allah untuk pasangan sederhana ini, dan tiga berikutnya adalah hasil perjuangan mereka di dunia. Rezeki cukup, selalu bersyukur. Berjuang di masyarakat menjadi guru ngaji.

Dari ayat di atas, lahirlah 6 konsep berkeluarga di rumah Mas Angga dan Neng Halimah.

1). Sakinah: Tenang

Itulah keluarga Mas Angga. Hati yang tenang, damai, tentram, nyaman, dan tidak gelisah. Mas Angga sepulang dari sawah, pulang ke rumah setelah lelah seharian, lalu merasa DAMAI.

Itulah makna "LITASKUNUU ILAIHA" agar kamu merasa tenang kepadanya.

Saling berbagi peran, itulah keluarga Mas Angga dan Neng Halimah. Suami pulang kerja capek dari sawah, begitu masuk rumah melihat wajah istri, rasa capeknya hilang. Bukan karena rumahnya mewah, tapi karena istri menyambut dengan senyum.

Sebaliknya, istri yang seharian mengurus anak, begitu suami pulang dan berkata,  "Sudah, istirahat, biar saya yang jaga anak," hati istri langsung tenang. Itulah sakinah.

Rumah yang sakinah itu bukan rumah yang tidak ada masalah, tapi rumah yang menjadi tempat pulang yang menenangkan.

2). Mawaddah: Cinta yang Berapi-api

Apa maknanya? Itulah cinta yang aktif, yang diungkapkan, cinta yang bergelora. Kalau sakinah itu tenang, mawaddah itu hangat. Mawaddah itu cinta yang ditunjukkan dalam perbuatan.

"WA JA'ALA BAINAKUM MAWADDAH", Dia menjadikan di antara kamu rasa cinta.

Itulah cinta yang diucapkan dan dibuktikan. Suami yang tiba-tiba membelikan oleh-oleh kesukaan istri tanpa diminta. Istri yang menyiapkan kopi suami sebelum suami minta. Suami yang bilang, "Terima kasih ya, sudah capek ngurus anak."

Mawaddah itu seperti masa pengantin baru. Saling rindu, saling memuji, saling menggandeng tangan. Harus dipupuk terus. Kalau tidak dipupuk, cinta akan layu.

)3). Rahmah: Kasih Sayang yang Lembut

Apa artinya? Kasih sayang yang lembut, yang muncul justru ketika pasangan itu sedang lemah, sakit, tua, atau berbuat salah.

Kalau mawaddah itu cinta karena kelebihan pasangan, rahmah itu sayang karena kekurangan pasangan.

Inilah ujian sesungguhnya. Ketika istri sudah tidak cantik seperti dulu, rambut mulai beruban, badan mulai gemuk karena melahirkan anak-anak kita, suami tetap sayang. Itulah rahmah.

Ketika suami sudah tua, sudah tidak kuat kerja, sudah pikun, sakit-sakitan, istri tetap merawat dengan sabar, menyuapi makan, memakaikan baju. Itulah rahmah.

Mawaddah bisa habis karena usia, tapi rahmah tidak pernah habis. Rahmah bertahan sampai kakek-nenek.

4). Barokah: Bertambah Kebaikannya

Apa itu barokah? Barokah itu bukan banyaknya harta, tapi bertambahnya kebaikan dalam yang sedikit itu. Sedikit tapi cukup, sedikit tapi menenangkan, sedikit tapi bisa berbagi.

Allah berfirman:

"Seandainya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti Kami bukakan untuk mereka keberkahan...." (Al-"Arof 96).
Itulah keluarga Mas Angga. Gaji guru ngaji tidak besar, hasil sawah tidak banyak. Tapi cukup untuk makan, cukup untuk bayar sekolah anak, bahkan masih bisa sedekah ke tetangga. Itulah barokah.

Rumah kayu yang kecil, tapi di dalamnya lahir anak-anak hafidz Qur'an, anak-anak yang sholeh. Itulah barokah.

Keluarga yang barokah itu cirinya: uangnya tidak habis untuk maksiat, waktunya tidak habis untuk bertengkar, anaknya tumbuh menjadi anak yang baik. Mas Angga dan Neng Halimah membuktikannya. Hidup mereka sederhana, tapi setiap harinya bertambah kebaikan.

5). Salamah: Selamat

Apa itu salamah? Selamat dari fitnah, selamat dari pertengkaran besar, selamat dari perceraian, selamat dari keburukan dunia dan akhirat.

Allah berfirman:

"Salam, sebagai ucapan dari Tuhan Yang Maha Penyayang", ( Yasin :  58 )

Di zaman sekarang, banyak rumah tangga hancur karena HP, karena perselingkuhan, karena judi online, karena saling membuka aib di media sosial.

Keluarga Mas Angga selamat dari itu semua. Itulah salamah.

Suami menjaga mata, tidak chat mesra dengan perempuan lain. Istri menjaga kehormatan, tidak membuka aib suami di status WA. Anak selamat dari pergaulan bebas karena orang tuanya kompak mendidik.

Salamah itu ketika suami istri bisa berkata di akhir hari,  "Alhamdulillah, hari ini kita selamat, tidak tergoda oleh dunia."

Rumah mereka mungkin kayu, tapi dindingnya lebih kokoh dari istana, karena dijaga oleh kesetiaan.

6). Mardhiyyah: Diridhoi Allah

Ini puncaknya. Bukan hanya kita ridho dengan pasangan kita, tapi Allah ridho dengan pernikahan kita. Kalau Allah sudah ridho, surga sudah menanti.

Allah berfirman:

" Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati ridho dan diridhoi", ( Alfajar 28 )

Mas Angga ridho istrinya sholehah, Neng Halimah ridho suaminya pekerja keras yang jujur. Tapi yang lebih penting, Allah ridho karena rumah tangga itu dibangun untuk ibadah, bukan untuk pamer.

Ciri keluarga mardhiyyah: suami istri saling mendoakan di sepertiga malam, bukan saling menuntut. Mereka tidak bertanya, "Apa yang kamu beri untukku?", Tapi bertanya, "Apa yang sudah aku beri untuk Allah lewat pernikahanku?"

Mas Angga dan Neng Halimah tidak mengejar agar dipuji manusia. Mereka hanya mengejar satu kata: "Aku ridho kepadamu." dari Allah.

Itulah konsep berkeluarga dalam Islam: Sakinah, Mawaddah, Wa Rahmah, Barokah, Salamah, dan Mardhiyyah.

Tiga pertama adalah hadiah dari Allah. Tiga berikutnya adalah perjuangan kita menjaga hadiah itu.

Semoga kita bisa mengaplikasikannya dalam rumah tangga kita. Sehingga rumah kita yang sederhana pun terasa seperti istana, karena Allah hadir di dalamnya.

Aamiin.