Lamongan — Program pascasarjana Universitas Islam Darul Ulum (Unisda) Lamongan menunjukkan tren positif dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap jenjang magister dan doktoral. Hal tersebut disampaikan oleh M. Afif Hasbullah selaku Ketua Senat Unisda.
“Minat masyarakat terhadap program pascasarjana di Unisda terus meningkat dari waktu ke waktu,” ujar Afif.
Ia menjelaskan, saat ini Unisda memiliki lima program pascasarjana yang terdiri dari dua program doktoral dan tiga program magister. Program doktoral meliputi Studi Islam dan Pendidikan Agama Islam (PAI), sedangkan program magister mencakup Magister Pendidikan Agama Islam (PAI), Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), serta Magister Hukum.
Menurut Afif, Program Doktor Studi Islam menjadi salah satu yang paling diminati. Hal itu tidak lepas dari ragam konsentrasi yang ditawarkan, mulai dari pemikiran Islam, hukum, kebijakan publik, ekonomi dan bisnis Islam, lingkungan, filsafat, gender, hingga kesehatan.
“Mahasiswanya berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari praktisi, pendidik, pejabat, hingga tokoh publik,” katanya.
Beberapa di antaranya adalah pendakwah Miftah Maulana Habiburrahman, pengusaha Arum Sabil, mantan Bupati Jember Faidah, serta Dansatkornas Ansor Syafiq Sauqi.
Sementara itu, Program Doktor Pendidikan Agama Islam yang izin operasionalnya baru diterbitkan oleh Kementerian Agama juga mulai menarik perhatian. Sejumlah pendaftar telah tercatat, termasuk dari kalangan pejabat luar negeri seperti Pejabat Menteri Pendidikan Timor Leste Domingos Lopes Lemos dan mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi.
Pada jenjang magister, program kependidikan—baik PAI maupun PBSI—menawarkan skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Skema ini memungkinkan para praktisi dan profesional menempuh studi magister dalam waktu relatif singkat.
“Melalui RPL, pengalaman kerja mahasiswa dapat dikonversi menjadi mata kuliah, sehingga studi bisa ditempuh sekitar dua semester,” jelasnya.
Adapun Magister Hukum diarahkan untuk mencetak tenaga profesional di bidang hukum bisnis, tata negara, pidana, hukum Islam, dan hukum kesehatan. Mayoritas mahasiswa berasal dari kalangan praktisi maupun calon praktisi hukum.
Selain itu, kurikulum pada seluruh program pascasarjana dirancang adaptif terhadap perkembangan zaman. Kurikulum disusun untuk merespons dinamika sosial dan global sekaligus menghadapi disrupsi teknologi.
“Kami mendorong pendekatan multidisiplin dan interdisipliner agar mahasiswa memiliki cara pandang yang lebih terbuka, kritis, dan kontekstual,” ujarnya.
Dari sisi pembiayaan, Afif menegaskan bahwa program pascasarjana Unisda tetap terjangkau bagi masyarakat.
“Program doktor dapat ditempuh dengan biaya sekitar Rp55 juta hingga lulus, sedangkan program magister berkisar Rp20 jutaan,” ungkapnya.
Dengan dukungan fasilitas yang memadai serta tenaga pengajar berkualifikasi guru besar dan doktor, Pascasarjana Unisda Lamongan dinilai semakin kompetitif. Lingkungan kampus yang bersih dan tertata juga menjadi penunjang kenyamanan belajar.
Sejauh ini, Unisda Lamongan telah memiliki tujuh program studi berakreditasi unggul. Selain itu, terdapat lima guru besar tetap, yakni M. Afif Hasbullah, Titiek Rohanah Hidayati, Muhtadi Ridlwan, Djawahir Hejjazie, dan Syihabuddin Qalyubi. Adapun Ketua Program Studi Doktor dijabat oleh Babun Suharto.
Tidak hanya diminati oleh mahasiswa dalam negeri, program pascasarjana Unisda juga menarik minat mahasiswa internasional, khususnya dari Thailand dan Timor Leste.
“Hal ini menunjukkan bahwa Unisda mulai mendapatkan kepercayaan yang lebih luas, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional,” pungkas Afif.





LEAVE A REPLY